Minggu, 08 Januari 2012

Pengenalan fungisida





I.                   PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Dalam pengendalian cendawan patogen di gunakan senyawa kimia fungisida. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi). Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya.

Pada umumnya cendawan berbentuk seperti benang halus yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun, kumpulan dari benang halus ini yang disebut mycelium bisa dilihat dengan jelas. Miselium ini bisa tumbuh diatas atau dalam tubuh inang. Warna meselium ini ada yang putih, cokelat, hitam dan lain-lain. Cendawan akan berkembang pesat bila kondisi sekitarnya sangat lembab, tanah asan dan selalu basah dengansuhu sekitar 25-30 C. Selain merusak tanaman yang masih hidup cendawan juga mengahancurkan kayu bangunan.

Cendawan merusak tanaman dengan berbagai cara. Misalnya sproranya masuk kedalam bagian tanaman lalu mengadakan pembelahan dengan cara pembesaran sel yang tidak teratur sehingga menimbulkan bisul-bisul. Pertumbuhan yang tidak teratur ini mengakibatkan system kerja jaringan pengangkut air menjadi terganggu sehingga kehidupan tanaman menjadi merana.


B.     Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan kali ini adalah :
  1. Memahami tentang pentingnya label fungisida agar
a.       Penggunaan fungisida dilakukan secara benar dan tepat
b.      Menghindari munculnya berbagai dampak yang muncul akibat penggunaan fungisida
  1. Mengerti semua informasi yang tercantum pada label fungisida
  2. Terlatih membaca label fungisida sebelum menggunakannya

II.                TINJAUAN PUSTAKA


Dalam pengendalian cendawan patogen di gunakan senyawa kimia fungisida. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi). Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya (George W. 1997).

Pada umumnya cendawan berbentuk seperti benang halus yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun, kumpulan dari benang halus ini yang disebut mycelium bisa dilihat dengan jelas. Miselium ini bisa tumbuh diatas atau dalam tubuh inang. Warna meselium ini ada yang putih, cokelat, hitam dan lain-lain. Cendawan akan berkembang pesat bila kondisi sekitarnya sangat lembab, tanah asan dan selalu basah dengansuhu sekitar 25-30 C. Selain merusak tanaman yang masih hidup cendawan juga mengahancurkan kayu bangunan (Hasriadi. 2006).

Cendawan merusak tanaman dengan berbagai cara. Misalnya sproranya masuk kedalam bagian tanaman lalu mengadakan pembelahan dengan cara pembesaran sel yang tidak teratur sehingga menimbulkan bisul-bisul. Pertumbuhan yang tidak teratur ini mengakibatkan system kerja jaringan pengangkut air menjadi terganggu sehingga kehidupan tanaman menjadi merana. Sebagi contoh kasus ini adalah penyakit akar gada pada kubis yang disebabkan oleh plasmodiophora brassiceae Wor ( Haryono. 1993).

Fungisida sistemik dapat di aplikasikan ke satu bagian tanaman, dan dapat di translokasikan ke bagian – bagian tanaman yang lain. Pada umumnya fungisida yang ada di pasaran baik fungisida sistemik maupun fungisida non sistemik, banyak yang dalam bentuk Wettable Powder ( WP ) yaitu tepung yang dapat terbasahkan, sehingga pengaplikasiannya dapat di lakukan dengan penyemprotan.
Untuk keperluan aplikasi di lapang, perlu di perhatikan dosis dan konsentrasi yang di perlukan. Dosis adalah banyaknya fungisida atau bahan aktif yang di gunakan per satu satuan luas lahan. Konsentrasi adalah banyaknya fungisida atau bahan aktif yang di gunakan pada satuan volume tertentu (Djafarudin. 2001)


III.             METODOLOGI PERCOBAAN


A.    Alat dan Bahan

Sampel berbagai jenis merk dagang fungisida antara lain Bendas 50 WP, folicur gold, Antracol 70 WP, Delsene MX 80 WP, Nativo 75 WG dan Trivia 73 WB.

B.     Cara Kerja

1.      Menyiapkan berbagai jenis fungisida, dengan berbagai merk
2.      Mencatat nama dagang, bahan aktif, kode fomulasi, cara kerja, dosis, sasaran dan deskripsi singkat.


V.                KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah :
1.      Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi).
2.      Fungisida digolongkan menjadi fungisida kontak dan sistemik.
3.      Label fungisida adalah keterangan yang terdapat pada fungisida
4.      Formulasi adalah jumlah bahan aktif yang merupakan bahan utama pembunuh organisme pengganggu yang terkandung dalam fungisida.

DAFTAR PUSTAKA


Agrios, George W. 1997. Plant Pathology Fourth Edition.New York: Academic
Press.
Akin, Hasriadi Mat. 2006. Virologi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius
Djafarudin. 2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Jakarta : Bumi
Aksara.
Semangun, Haryono. 1993. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.