PENDAHULUAN
Latar Belakang
Fitopatometri adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana mengukur besarnya penyakit tanaman. Pada umumnya penyakit diukur dari besarnya gejala yang timbul. Namun sebenarnya, besarnya penyakit juga bisa digambarkan dari jumlah epidemik penyakit yang ada. Epidemik penyakit tanaman merupakan populasi dari tanaman yang terinfeksi penyakit dalam populasi inang, dan perubahan penyakit tanaman pada waktu dan ruang tertentu. Sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang epidemik penyakit, terlebih dahulu kita harus memantaunya. Pemantauan terhadap penyakit tanaman dapat dilakukan dengan mengetahui intensitas atau besaran penyakit tanaman.
Besarnya penyakit sering dikemukakan dengan istilah serangan ringan, sedang, berat, atau sangat berat. Ungkapan yang demikian masih bersifat kualitatif, tidak memiliki makna ilmiah. Pernyataan demikian sangat bersifat subyektif. Dalam arti bahwa data kualitatif demikian tidak dapat dibandingkan antara ahli yang satu dengan ahli yang lain dan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Data yang bersifat kuantitatif tentang intensitas penyakit sangat diperlukan untuk berbagai kepentingan, terutama untuk kepentingan pengelolaan/pengendalian penyakit tanaman.
Keterjadian Penyakit (KjP) merupakan persentase jumlah tanaman yang terserang patogen (n) dari total tanaman yang diamati (N). Sedangkan keparahan penyakit (KpP) didefinisikan sebagai persentase luasnya jaringan tanaman yang terserang patogen dari total luasan yang diamati. Dimana KpP adalah keparahan penyakit; n adalah jumlah jaringan terserang pada setiap kategori (skor); v adalah kategori (skor) serangan; Z adalah kategori serangan tertinggi; dan N adalah total dari jumlah jaringan yang diamati (Agrios,1997).
Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
Menghitung intensitas penyakit tanaman pada skala laboratorium
Mengetahui dan memahami perbedaan keterjadian dan keparahan penyakit tanaman
Mengetahui dan memahami manfaat pengukuran intensitas penyakit
TINJAUAN PUSTAKA
Fitopatometri adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana mengukur besarnya penyakit tanaman. Pada umumnya penyakit diukur dari besarnya gejala yang timbul. Namun sebenarnya, besarnya penyakit juga bisa digambarkan dari jumlah epidemik penyakit yang ada. Epidemik penyakit tanaman merupakan populasi dari tanaman yang terinfeksi penyakit dalam populasi inang, dan perubahan penyakit tanaman pada waktu dan ruang tertentu. Sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang epidemik penyakit, terlebih dahulu kita harus memantaunya. Pemantauan terhadap penyakit tanaman dapat dilakukan dengan mengetahui intensitas atau besaran penyakit tanaman.
Besarnya penyakit sering dikemukakan dengan istilah serangan ringan, sedang, berat, atau sangat berat. Ungkapan yang demikian masih bersifat kualitatif, tidak memiliki makna ilmiah. Pernyataan demikian sangat bersifat subyektif. Dalam arti bahwa data kualitatif demikian tidak dapat dibandingkan antara ahli yang satu dengan ahli yang lain dan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Data yang bersifat kuantitatif tentang intensitas penyakit sangat diperlukan untuk berbagai kepentingan, terutama untuk kepentingan pengelolaan/pengendalian penyakit tanaman (Hamdayanty, 2010).
Pengukuran intensitas penyakit tanaman dapat dinyatakan dalam istilah keterjadian penyakit dan keparahan penyakit. Intensitas penyakit dinyatakan dengan keterjadian penyakit apabila penyakitnya bersifat sistemik atau adanya serangan patogen cepat atau lambat akan menyebabkan kematian atau tidak berproduksi misalnya penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit-penyakit yang gejala dan akibatnya bervariasi, maka intensitas penyakit dinyatakan dengan keparahan penyakit. Pengukuran keparahan penyakit biasanya dilakukan pada penyakit bercak dan karat pada daun (Zadoks dan Schein, 1979).
Keterjadian Penyakit (KjP) merupakan persentase jumlah tanaman yang terserang patogen (n) dari total tanaman yang diamati (N). Sedangkan keparahan penyakit (KpP) didefinisikan sebagai persentase luasnya jaringan tanaman yang terserang patogen dari total luasan yang diamati. Dimana KpP adalah keparahan penyakit; n adalah jumlah jaringan terserang pada setiap kategori (skor); v adalah kategori (skor) serangan; Z adalah kategori serangan tertinggi; dan N adalah total dari jumlah jaringan yang diamati (Agrios,1997).
Praktikum mengukur intensitas penyakit penting dilakukan dalam upaya pengendalian penyakit, dimana hal yang perlu dilakukan secara rutin dan berkala adalah pengamatan terhadap perkembangan suatu penyakit yang ada pada lahan pertanaman. Dengan adanya pengamatan maka akan diperoleh informasi tentang jenis penyakit dan tingkat serangannya. Kemudian informasi tersebut dapat digunakan sebagai sarana dalam mengambil keputusan untuk pengendalian terhadap penyakit tersebu
METODOLOGI PERCOBAAN
Alat dan Bahan
Dalam percobaan ini digunakan alat dan bahan yang berupa sampel tanaman dan alat tulis serta kalkulator.
Cara Kerja
Adapun langkah-langkah dalam melakukan praktikum ini adalah sebagai berikut:
Menghitung keterjadian penyakit
Mengambil sampel daun sebanyak 49 lembar daun.
Memisahkan daun-daun tersebut menjadi 2, yaitu daun sehat dan daun sakit.
Menghitung keterjadian penyakit menggunakan rumus:
KjP n x 100%
N
Keterangan:
n = jumlah sampel sakit
N = jumlah seluruh sampel yang diuji
Menghitung keparahan penyakit
Mengambil sampel daun senanyak 49 lembar daun.
Menilai daun yang terinfeksi penyakit berdasarkan skor penyakit yang digunakan sesuai dengan criteria.
Menghitung keparahan penyaki menggunakan rumus
KpP ∑ (n . V) x 100%
Z. N
Keterangan:
n = jumlah sampel sakit per kategori penyakit
V = nilai skor penyakit
Z = skor tertinggi
N = sampel yang diamat
HASIL DAN PEMBAHASAN
% KpP = (Σ ( "n .v )" )/"Z .N" x 100 %
= (( "8 x 0 )+ ( 12 x 1 ) + (8 x 2 ) + (3 x 3 ) + ( 12 x 4 ) + (2 x 5 )" )/"45 x 5" x 100 %
= (0+12+16+9+48+10)/"225" x 100 %
= 0,42 x 100 %
= 42 %
Pembahasan
Dalam praktikum mengukur intensitas penyakit, praktikan melakukan dua percobaan dimana percobaan pertama adalah keterjadian penyakit dan percobaan kedua dalah keparahan penyakit. Keparahan penyakit dapat dijelaskan dengan cara membagi kisaran dari tak ada gejala penyakit sampai penuh gejala penyakit ke dalam kelas-kelas atau kategori-kategori dalam skor-skor tertentu. Jaringan diamati dengan cara mencocokan termasuk kategori atau kelas yang sesuai. Skor penyakit merupakan diskripsi kelas-kelas yang akan dibedakan secara verbal dan numerik. Skor penyakit mencakup semua kisaran dari 0 sampai 100% gejala penyakit. Setiap kelas dicirikan oleh suatu tingkat penyakit tertentu, yang memilki suatu nilai numerik (Anonim, 2008).
Pada pengukuran intensitas penyakit, perlu dilakukan pengamatan penyakit yang merupakan kegiatan penghitungan dan pengumpulan informasi tentang keadaaan populasi atau tingkat serangan penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada waktu dan tempat tertentu. Teknik Pengamatan penyakit pada tanaman memiliki arti penting dikarenakan merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat kerusakan serta perkembangan dari penyakit sehingga dapat menjawab pertanyaan perlu tidaknya penyakit tersebut untuk dikendalikan atau diperlukan pengendalian secara cepat atau penegndalian dalam waktu yang lambat.
Intensitas penyakit yang mencakup insidensi (kejadian) penyakit dan severitas (keparahan) penyakit tanaman perlu diketahui dan dipahami untuk memudahkan masyarakat khususnya masyarakat yang berusaha di bidang pertanian (petani) dalam memberi penanganan terhadap tanaman yang terserang penyakit karena penyakit tanaman merupakan interaksi antara tanaman dan patogen yang disebabkan oleh lingkungan, maka perlu pengukuran kuantitas tanaman, patogen, dan lingkungan dalam menimbulkan penyakit. Selain itu, dengan mengetahui intensitas penyakit suatu tanaman, maka kita akan mampu mengetahui dampak ekonomi dan lingkungan yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Dengan demikian, penanganan terhadap tanaman yang terserang penyakit pun akan lebih tepat. Dalam kasus praktikum ini, tingkat keparahan tanaman yang terserang penyakit adalah sebesar 48,6%.
Hal ini berarti hampir setengah populasi tanaman terkena patogen dengan kata lain penyakitnya cukup parah. Dari data tersebut, kita sebagai pelaku pertanian dapat mengambil tindakan untuk proses pencegahan patogen menyebar ke tanaman lain dengan cara-cara yang sesuai, seperti dengan pengendalian hayati dengan menggunakan cara-cara alami yang dampaknya tidak merusak lingkungan di sekitarnya. Gejala penyakit suatu tanaman seperti karat, hawar, bercak ataupun terdapat embun jelaga yang ditentukan berdasarkan kejadian dan keparahan penyakit yang diamati sangat mempengaruhi kehilangan hasil yang akan diperoleh oleh petani. Kejadian penyakit dan keparahan penyakit yang besar akan berkorelasi dengan kehilangan hasil yang besar pula. Demikian pula sebaliknya, kejadian penyakit dan keparahan penyakit yang kecil akan berkorelasi dengan kehilangan hasil yang kecil. Untuk itu, manfaat atau kegunaan lain dari adanya pengukuran intensitas penyakit adalah ketika kejadian penyakit dan keparahan penyakit yang teramati di lapang cukup besar maka perlu adanya tindakan pengendalian dan pencegahan agar kehilangan hasil yang nantinya akan terjadi tidak telalu besar sehingga tidak telalu merugikan petani.
Penentuan kerusakan yang berupa keterjadian dan keparahan suatu penyakit akan berpengaruh terhadap sektor ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan mengetahui tingkat keparahan penyakit yang muncul di suatu wilayah atau daerah pertanian, maka petani dapat dengan tepat menentukan kapan tindakan pengendalian harus dilakukan agar biaya pengendalian yang dikeluarkan tidak melebihi nilai kehilangan hasil pertanian dan kerugian akibat penyakit dapat diminimalkan dimana konsep kerusakan ekonomi ini akan berdampak pada besarnya hasil yang akan diperoleh petani dari usaha pengendalian yang dilakukannya (Zanakh, 2011). Maksudnya disini adalah saat patogen menyerang tanaman inang, maka kita dapat segera mengontrol atau mengendalikan penyakit sebelum menyebar lebih lanjut ke tanaman sehat sehingga tidak terjadi pengeluaran dua kali lipat apabila pengendalian dilakukan saat semua tanaman sudah menyebar ataupun hampir mati.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
Pengukuran intensitas penyakit dilakukan karena berguna dalam mengetahui angka keterjadian dan keparahan suatu penyakit akibat serangan patogen.
Pada keparahan penyakit menggunakan skor untuk memudahkan dalam mengelompokkan intensitas penyakit berdasarkan tingkat keparahannya.
Penentuan keparahan penyakit pada tanaman memiliki arti penting dikarenakan merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat kerusakan serta perkembangan dari penyakit.
Manfaat dalam kehidupan dengan mengetahui angka keterjadian dan keparahan penyakit adalah petani dapat memprediksi cara pengendalian dan kapan pengendalian harus dilakukan.
Dengan mengetahui intensitas penyakit suatu tanaman, maka kita akan mampu mengetahui dampak ekonomi dan lingkungan yang disebabkan oleh penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, George W. 1997. Plant Pathology Fourth Edition. New York: Academic
Press.
Anonim, 2008. Penyakit-Penyakit Penting Tanaman Kacang Tanah. [terhubung
berkala]. http://kliniktanaman.blogspot.com/2008/12/penyakit-penyakit-
penting-tanaman kacang tanah.html.[30 November 2011].
Semangun, Haryono. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Zadoks, C.J. and R.D. Schein. 1979. Epidemiology and Plant Disease
Management. New York: Oxford University Press. 427 pp.
Zannakh. 2011. Ambang Ekonomi. Diakses pada tanggal 29 November 2011
pukul 21.15 WIB
dreaming and reality
Senin, 06 Februari 2012
Minggu, 08 Januari 2012
Pengenalan fungisida
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pengendalian cendawan patogen di gunakan senyawa kimia fungisida. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi). Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya.Pada umumnya cendawan berbentuk seperti benang halus yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun, kumpulan dari benang halus ini yang disebut mycelium bisa dilihat dengan jelas. Miselium ini bisa tumbuh diatas atau dalam tubuh inang. Warna meselium ini ada yang putih, cokelat, hitam dan lain-lain. Cendawan akan berkembang pesat bila kondisi sekitarnya sangat lembab, tanah asan dan selalu basah dengansuhu sekitar 25-30 C. Selain merusak tanaman yang masih hidup cendawan juga mengahancurkan kayu bangunan.
Cendawan merusak tanaman dengan berbagai cara. Misalnya sproranya masuk kedalam bagian tanaman lalu mengadakan pembelahan dengan cara pembesaran sel yang tidak teratur sehingga menimbulkan bisul-bisul. Pertumbuhan yang tidak teratur ini mengakibatkan system kerja jaringan pengangkut air menjadi terganggu sehingga kehidupan tanaman menjadi merana.
B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan kali ini adalah :
- Memahami tentang pentingnya label fungisida agar
a. Penggunaan fungisida dilakukan secara benar dan tepat
b. Menghindari munculnya berbagai dampak yang muncul akibat penggunaan fungisida
- Mengerti semua informasi yang tercantum pada label fungisida
- Terlatih membaca label fungisida sebelum menggunakannya
II. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam pengendalian cendawan patogen di gunakan senyawa kimia fungisida. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi). Fungisida umumnya dibagi menurut cara kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran yang diaplikasi, yakni fungisida nonsistemik, sistemik, dan sistemik local. Pada fungisida, terutama fungisida sistemik dan non sistemik, pembagian ini erat hubungannya dengan sifat dan aktifitas fungisida terhadap jasad sasarannya (George W. 1997).
Pada umumnya cendawan berbentuk seperti benang halus yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun, kumpulan dari benang halus ini yang disebut mycelium bisa dilihat dengan jelas. Miselium ini bisa tumbuh diatas atau dalam tubuh inang. Warna meselium ini ada yang putih, cokelat, hitam dan lain-lain. Cendawan akan berkembang pesat bila kondisi sekitarnya sangat lembab, tanah asan dan selalu basah dengansuhu sekitar 25-30 C. Selain merusak tanaman yang masih hidup cendawan juga mengahancurkan kayu bangunan (Hasriadi. 2006).
Cendawan merusak tanaman dengan berbagai cara. Misalnya sproranya masuk kedalam bagian tanaman lalu mengadakan pembelahan dengan cara pembesaran sel yang tidak teratur sehingga menimbulkan bisul-bisul. Pertumbuhan yang tidak teratur ini mengakibatkan system kerja jaringan pengangkut air menjadi terganggu sehingga kehidupan tanaman menjadi merana. Sebagi contoh kasus ini adalah penyakit akar gada pada kubis yang disebabkan oleh plasmodiophora brassiceae Wor ( Haryono. 1993).
Fungisida sistemik dapat di aplikasikan ke satu bagian tanaman, dan dapat di translokasikan ke bagian – bagian tanaman yang lain. Pada umumnya fungisida yang ada di pasaran baik fungisida sistemik maupun fungisida non sistemik, banyak yang dalam bentuk Wettable Powder ( WP ) yaitu tepung yang dapat terbasahkan, sehingga pengaplikasiannya dapat di lakukan dengan penyemprotan.
Untuk keperluan aplikasi di lapang, perlu di perhatikan dosis dan konsentrasi yang di perlukan. Dosis adalah banyaknya fungisida atau bahan aktif yang di gunakan per satu satuan luas lahan. Konsentrasi adalah banyaknya fungisida atau bahan aktif yang di gunakan pada satuan volume tertentu (Djafarudin. 2001)
III. METODOLOGI PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
Sampel berbagai jenis merk dagang fungisida antara lain Bendas 50 WP, folicur gold, Antracol 70 WP, Delsene MX 80 WP, Nativo 75 WG dan Trivia 73 WB.
B. Cara Kerja
1. Menyiapkan berbagai jenis fungisida, dengan berbagai merk
2. Mencatat nama dagang, bahan aktif, kode fomulasi, cara kerja, dosis, sasaran dan deskripsi singkat.
V. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah :
1. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan (fungi).
2. Fungisida digolongkan menjadi fungisida kontak dan sistemik.
3. Label fungisida adalah keterangan yang terdapat pada fungisida
4. Formulasi adalah jumlah bahan aktif yang merupakan bahan utama pembunuh organisme pengganggu yang terkandung dalam fungisida.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, George W. 1997. Plant Pathology Fourth Edition.New York: Academic
Press.
Akin, Hasriadi Mat. 2006. Virologi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius
Djafarudin. 2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Jakarta : Bumi
Aksara.
Semangun, Haryono. 1993. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Langganan:
Komentar (Atom)